RSS

Arsip Kategori: Animal

Kepiting Ladam

Minggu ini banyak hal yang tidak diduga terjadi. Mulai dari kaki nyangkut bus waktu busnya jalan, pembelian casing hape yang belum 5 menit dipasang keypad-nya sudah lepas 2 tombol, rencana pengisian modem yang gagal karena siang harinya e-Center Supermal Karawaci kebakaran dan ditutup hingga malam – bahkan hingga besoknya belum seua stand dibuka-, serta mimpi absurd yang melibatkan oran-orang yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan saya sama sekali tidak tahu wajah mereka 😐

Tenang, saya tidak akan menceritakan satu persatu kejadian diatas. Nanti terlalu panjang dan postingannya juga menjadi tidak jelas.

Pernah dengar nama kepiting ladam? Itu, hewan berbuku yang hidupnya di air, bentuknya tidak mirip udang dan tidak mirip kepiting, dalam taksonomi lebih condong kekeluargaan dengan laba-laba dan kalajengking,  tapi pada akhirnya tetap saja diberi nama kepiting. Hidupnya cuma di laut, jadi kalau ada yang mengklaim melihat hewan serupa di air tawar segeralah tangkap dan dartarkan ke pusat penelitian hewan, siapa tahu menemukan spesies baru.

Ngomong-ngomong soal kepiting, tentunya pikiran melayang ke kepiting rebus, kepiting goreng saus asam manis maupun kepiting-kepiting lainnya. Sayangnya belum pernah ada cerita rumah makan yang menyediakan seafood memiliki “kepiting kaki kuda” pada daftar hewan olahan.

Spesies kepiting ladam yang ada di Indonesia (Carcinoscorpius rotundicauda), bisa ditemukan juga di wilayah Malaysia, India, Philipina, Singapura, Thailand dan Hongkong.  Jadi nanti kalau di berita ada yang bilang ”Malaysia mengklaim kepiting ladam hutan bakau berasal dari wilayahnya, kita harus memprotes” silakan ketawa keras-keras karena yang bikin berita pasti belum baca blog saya *eh*

Apalagi ya, semua kepiting ladam, jenis manapun, memiliki kesamaan yaitu tubuhnya terdiri dari 3 bagian, bagian depan, tengah dan belakang *dijitak* err.. seperti itu. Itu bagian belakang yang mirip ekor, sebenarnya tidak berguna dalam keadaan biasa, tapi ketika dalam keadaan darurat (misalnya sang kepiting terkena ombak dan terbalik) itu ekornya digunakan untuk membalik diri ke posisi normal. Kakinya ada di sebelah bawah, 6 pasang.

Dan proses kawinnya dilakukan di dekat pantai, bukan di laut. Jadi kalau waktu jalan-jalan main air di pantai, nemu hewan ini lagi berdua-dua, trus kalian merasa kasihan trus dibawa ke tempat yang dalam trus dilepaskan disana, sebenarnya kalian melakukan kekejaman dengan mengganggu pasangan dimabuk cinta yang sedang menikmati bulan madu.

Ngomong-ngomong, ini kepiting sebenarnya keturunan kerajaan, keturunan ningrat, berdarah biru. Dalam arti yang sebenarnya. Darahnya nggak ada hemoglobin, tapi adanya hemocyanin. Apa itu hemocyanin? Sel darah biru. 😆 *dilempar bakiak* pokoknya bedanya itu kalau hemoglobin kan sel darahnya mengandung besi (Fe) jadi biar sehat banyak-banyak makan makanan yang mengandung zat besi, kalo hemocyanin itu kandungannya tembaga (Cu). Detilnya saya nggak tau, SMK nggak ada pelajaran biologi dan pelajaran kimianya terlalu tidak menarik hati 😐

Selamat berbulan April, selamat bekerja skripsi UN atau apapun itu, dan jangan lupa, bersenang-senang.

Iklan
 
18 Komentar

Ditulis oleh pada April 8, 2012 in Animal, nature, Sea

 

Tag: ,

From The Depth I’ve Came

Disclaimer: Percakapan tidak nyata berikut sepenuhnya adalah fiksi tapi di dalamnya terselip kebenaran yang tidak bisa disangkal. Percakapan ditulis berdasarkan rekaman video dan radio dari kedua belah pihak dimana kedua rekaman dan kedua pihak itu sesungguhnya tidak ada.

 

Once upon a time, somewhere unknown…. Mr. Nautilus met his guest, a young reporter from a company that never existed….

Selamat pagi Pak Nautilus, apa kabar anda hari ini?

Kabar saya luar biasa.

Super sekali ya Pak. Sesuai janji kemarin, hari ini anda bersedia menjalani sesi wawancara untuk blog saya kan?

Tentu, tentu. Saya sudah tua tapi saya belum pikun kok. Silakan, kamu mau apa saja, boleh.

Ehm, boleh minta uang nggak Pak, saya lagi kurang banget nih.

He?

Err.. bercanda Pak. Kita mulai dari nama saja. Nama Nautilus ini apakah punya sejarah Pak, semacam latar belakang begitu?

Oh, nama marga saya ya. Nautilus itu aslinya dari bahasa Romawi, yang artinya pelaut. Di keluarga saya juga semua hapal lagu yang nenek moyangku seorang pelaut.

Eh? Nama marga? Pak Nautilus bisa nyanyi juga?

Iya, nama marga. Nama lengkap saya John Nautilus, soalnya ayah saya pernah tinggal sebentar di Inggris. Kalau nyanyi, ya bisalah, nyanyi2 waktu dikamar mandi gitu.

Kalu begitu, bisa dipanggil John saja Pak?

Wah jangan, nanti pada bingung, ini spesies apa kok namanya John.

Oh iya ya, haha. Trus, bisa mendemokan keindahan suara ketika nyanyi Pak?

Wah itu juga jangan. Suara saya jelek, lebih jelek daripada itu, siapa, tokoh di Doraemon itu? Darsem?

Zzzz. Yasudah, lupakan Pak. Pertanyaan selanjutnya. Silsilah keluarga Bapak ini sudah berapa puluh tahun ya?

Berapa puluh tahun? Wah, kau meremehkanku anak muda. Silsilah keluarga, dulu pernah ditunjukkan sama bapak saya, itu bisa ditelusuri hingga sekitar 500 juta tahun lalu. Jaman yang kalian para manusia menyebutnya Cambrian.

Wah, silsilahnya panjang sekali ya Pak. Padahal Bapak ini, maaf, kecil lho, hehe.

Loh, jangan salah anak muda. Dulu diantara keluarga saya, ada yang ukurannya bisa mencapai 2,5 meter. Sayang, garis keturunan mereka berhenti sekitar 200 juta tahun lalu. Yang beranak terus nggak putus-putus cuma yang badannya kecil-kecil ini, hahaha.

Haha, Bapak ini bisa saja. Sebentar-sebentar, jadi, nama Nautilus itu dari bahasa Romawi? 500 juta tahun lalu sudah ada bahasa Romawi Pak??

Nggak juga. Itu kan penyebutan di lidah kalian. Kalau di bahasa kami, nama marga kami adalah

Adalah apa pak?

Adalah

Ya Pak?

Waduh, karakternya nggak ada di keyboard manusia, gimana ini?

Yasudah nggak usah Pak. Ngomong-ngomong, itu kenapa kaki di kepala dan kepala di kaki Pak? Penggemar Peterpan juga ya, kayak saya?

Yang ada juga Peterpan itu ngefans sama saya, makanya bikin lagu itu terinspirasi dari kepala saya, haha.

Hahahaha. Garing deh.

Jadi yang kayak gini ini nak, namanya Chepalopoda. Hewan yang kakinya di kepala itu namanya Chepalopoda. Dan diantara semua Chepalopoda, cuman saya yang punya cangkang. Keren kan?

Iya Pak, keren. Jadi, Bapak ini blasteran cumi-cumi dan bekicot, gitu? *ditampar*

*tampar pewawancara edan*

Dengar-dengar, tentakel Bapak ini pegangannya kuat ya?

Iya. Kalau ini tentakel udah pegang sesuatu, kami gak akan melepaskannya begitu saja. Bahkan kalau barang itu ditarik paksa, dengan kekuatan yang luar biasa, bisa-bisa tentakelnya putus dari kepala tapi tetap memegang benda itu.

Yaampun. Sampe segitunya.

Mau coba?

Nggak Pak, makasih. Btw sekarang Bapak tinggalnya dimana?

Saya? Di Selat Bali. Kalau famili sih ada yang dekat ada yang jauh. Kalau kamu lihat peta, perairan laut antara 30°LU – 30°LS dan 90°-185°BT. Kerabat saya tersebar di wilayah itu.

Ooh, di sekitar Indonesia berarti banyak juga ya Pak.

Yup betul itu. Makanya kamu nanti kalo sudah jadi orang kaya, jangan suka buang limbah pabrik ke laut ya.

Iya Pak, doakan saja, hehe.

Ayo, diminum dulu ini. Maaf cuman air asin, maklum rumah saya kan di dalam laut.

Eeh, iya Pak, makasih. Ini oksigen saya sudah mau habis ini.

Sudah, jangan malu-malu, ini rumput lautnya dimakan juga.

Aduh Pak, tangki saya lepas. Eeh?? Blrrrgh bjrrbhg… *kirim SOS ke kapal*

*kapal merespon, tarik tumbal ke permukaan secepatnya*

Ah, anak muda yang penuh semangat, berenang ke permukaan seperti itu. Hati-hati di jalan wahai anak muda.

****

Demikianlah percakapan tidak jelas yang terjadi di sebuah rumah yang sebenarnya tidak pernah ada yang menjadi saksi sebuah perbincangan yang sesungguhnya juga tidak pernah ada. Seperti kata pepatah, injaklah ranting supaya patah, maka ambillah patahannya lalu bawa pulang untuk membuat ketapel *eh*

original image of nautilus from http://aquaviews.net

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 14, 2012 in Animal, nature, Sea

 

In Memoriam

dan mereka menghilang
setelah sekian lama menikmati bumi
merasakan sinar surya
dan berlari bersama angin

dan mereka menghilang
di balik bayang-bayang
predator terkuat di alam
yang menaklukkan semua
memakan bukit dan lautan

dan mereka menghilang

 

Tasmanian Tiger

Tasmanian Tiger

Dodo

Dodo

Quagga

Quagga

Harimau Bali (1937)

Harimau Bali

 

dan masih banyak yang lainnya, dan sangat banyak yang akan menyusul…

 
23 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 21, 2010 in Animal, History

 

Appetizer – Giant Stingray

Lebih dari setahun yang lalu, pada akhir bulan Januari 2009, sekelompok peneliti yang tergabung dalam “Megafishes Project” – sebuah proyek untuk mendokumentasikan sekitar 20 spesies ikan air tawar raksasa – mempublikasikan penangkapan sekaligus pelepasan kembali seekor ikan yang hampir dipastikan adalah pari raksasa air tawar terbesar yang pernah ditemukan.

Ahli biologi Universitas Nevada yang ikut dalam proyek itu, Zeb Hogan, memperkirakan pari raksasa itu mempunyai berat kira-kira 250 – 450 kg dengan panjang sekitar 2 meter. Ekor dari pari ini putus. Jika ekornya masih ada, mungkin panjangnya mencapai 5 meter.

Penemuan ikan itu di wilayah Thailand memberikan harapan, mungkin saja pari raksasa berjumlah lebih banyak dari yang diperkirakan. Dan penemuan itu mungkin juga mengukuhkan pari raksasa sebagai juara kelas berat dari Megafishes Project.

Kita belum tahu berapa berat pastinya, tapi yang jelas pari raksasa punya kans besar untuk menjadi ikan air tawar terbesar di dunia. Populasi pari raksasa di Thailand sempat masuk kategori terancam punah, namun penelitian lebih lanjut menunjukkan populasi mereka lebih tingi daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Pari raksasa air tawar adalah salah satu yang terbesar dari sekitar 200 spesies ikan pari. Mereka bisa ditemukan di sungai-sungai Asia Tenggara dan wilayah utara Australia. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dari spesies ini, termasuk apakah mereka bisa pergi dan bertahan hidup di laut. Spesies pari air tawar ini baru diidentifikasi secara ilmiah pertama kali pada 1989.

source: national geographic archive (edited for today’s use)

 
23 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 12, 2010 in Animal, Hidden Event, Uncategorized

 

A Quick White Fox Jumps Over A Frozen Dog

Rubah arktik, atau disebut juga rubah putih, rubah kutub atau rubah salju, adalah kelompok kecil rubah yang hidup di wilayah lingkar utara Arktik dan bisa ditemui di daerah tundra.

Rubah ini tinggal di wilayah dengan suhu ekstrim. Mereka memiliki struktur tubuh untuk menahan dingin, bulu yang tebal, sistem penahan panas, dan sejumlah lemak tubuh. Rubah ini memiliki luas permukaan tubuh yang lebih sempit dibandingkan rubah lain, bisa dilihat dari bentuk tubuh yang cenderung membulat, kaki dan moncong yang pendek, dan telinga pendek yang tebal. Rubah arktik memiliki pendengaran yang tajam dan bisa mendengarkan suara buruan di balik salju. Warna bulunya juga berubah sepanjang tahun. Dalam musim dingin, bulunya berwarna putih untuk penyamaran, dan ketika bulan musim panas, berubah menjadi cokelat.

Rubah arktik cenderung aktif sekitar bulan September hingga Mei. Dengan masa hamil 53 hari, induk rubah melahirkan sekitar 5-8 bayi. Rubah jantan dan betina merawat bayinya bersama-sama. Rubah betina muda akan meninggalkan kelompok untuk membentuk kelompok baru, sementara rubah muda jantan tetap menyatu dengan kelompok induknya.

Rubah membentuk hubungan monogami ketika musim kawin. Bayi akan dilahirkan pada awal musim panas, lalu para orang tua merawat mereka dalam liang yang besar. Liang-liang itu bisa berupa sistem jaringan terowongan bawah tanah yang rumit (tanpa router ataupun switch tentunya), yang menjadi tempat tinggal beberapa generasi rubah. Rubah muda yang lahir tahun lalu akan membantu para orang tua untuk mengasuh saudaranya yang lebih muda. Bayi rubah memiliki bulu kecokelatan, dan warna itu memutih ketika mereka semakin dewasa.

Rubah arktik makan daging apa saja yang bisa ditemukan di kutub, termasuk bayi anjing laut, dan juga ikan di bawah lapisan es. Jika ada makanan yang tidak habis dimakan, mereka akan menguburnya.

Kalo ada yang masih penasaran lagi, spesies rubah yang ini punya 4 sub-spesies:
– Rubah Arktik Kepulauan Bering (Alopex lagopus beringensis)
– Rubah Arktik Iceland (Alopex lagopus fuliginosus)
– Rubah Arktik Kepulauan Pribilof (Alopex lagopus probilofensis)
– Rubah Arktik Greenland (Alopex lagopus foragorapus)
dari namanya terlihat perbedaan masing-masing sub-spesies ada pada wilayah tinggalnya.

Err… jadi, siapa yang mau ikut melompat?

 
34 Komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2010 in Animal

 

Banyak Warga Baru

090807-01-eastern-himalayas_bigNih, katak kaki merah, baru ditemukan pada tahun 2007 di wilayah Assam, India. Katak ini salah satu dari 350-lebih spesies yang ditemukan di wilayah ini dari 1998-2008. Bisa disebut juga si katak terbang, karena selaput di kaki belakangnya berfungsi seperti glider ketika dia meloncat dari pohon ke pohon lain 😀

 

090807-02-eastern-himalayas_bigTrus yang ini viper liang hijau. Jenis ular viper selalu beracun, jadi sebaiknya jangan adu gigit sama dia, oke? Ular jantan dewasa tumbuh hingga sekitar 1,3 meter, nggak terlalu panjang sih, tapi tetep aja, jangan nantang gigit. Jenis ular ini bisa ditemukan di wilayah Thailand dan Myanmar.

 

090807-04-eastern-himalayas_bigAda yang suka bunga? Sejak 10 tahun lalu di wilayah Himalaya ada 21 spesies anggrek baru yang ditemukan, salah satunya yang dipajang disini ini, nama latinnya Coelogyne pantlingii. Anggrek yang ini ditemukan di daerah Sikkim.

 

 

 

 

 

 

090807-05-eastern-himalayas_bigAda juga spesies aves yang ditemukan. Si paruh lengkung (yang agak agak mirip pedang) ini ditemukan di pegunungan Lang Biam Vietnam. Nggak banyak aves yang ditemukan di himalaya, cuman 2 aja sejak tahun 1998. Tapi nggak papa lah, terus mencari *halah*

 

Suka makan udang? Nih ada udang baru, silakan dicoba, sapa tau bisa keracunan *dilempar bata*. 090807-06-eastern-himalayas_big

 

Yang terakhir nampang, ikan. Salah satu spesies dari snakehead fish. 090807-07-eastern-himalayas_big

 

*curhat session: pengen bikin postingan reguler tiap minggu satu kok susah ya. adaaa aja yang bikin lupa.

 
53 Komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2009 in Animal, Hidden Event, nature, Sea, Sky

 

Tag: , , , ,

Sang Naga yang Sesungguhnya

Kalian tahu kan, kalau Komodo dari Indonesia? Kalian tahu juga kan kalau komodo termasuk reptil? Kalian tahu kan kalau komodo itu pemakan bangkai? Kalian juga pastinya tahu kalau liur komodo itu beracun? Kalian tahu juga kan kalau saya bukan komodo?

Jika pertanyaan diatas dijawab dengan “ya” semuanya, selamat, anda sudah paham. Tapi bila ada satu saja yang dijawab “tidak” terutama mengenai “saya bukan komodo” maka mohon baca ulasan di bawah :mrgreen: Read the rest of this entry »

 
30 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 15, 2009 in Animal, nature

 

Tag: , , , , ,