RSS

From The Depth I’ve Came

14 Feb

Disclaimer: Percakapan tidak nyata berikut sepenuhnya adalah fiksi tapi di dalamnya terselip kebenaran yang tidak bisa disangkal. Percakapan ditulis berdasarkan rekaman video dan radio dari kedua belah pihak dimana kedua rekaman dan kedua pihak itu sesungguhnya tidak ada.

 

Once upon a time, somewhere unknown…. Mr. Nautilus met his guest, a young reporter from a company that never existed….

Selamat pagi Pak Nautilus, apa kabar anda hari ini?

Kabar saya luar biasa.

Super sekali ya Pak. Sesuai janji kemarin, hari ini anda bersedia menjalani sesi wawancara untuk blog saya kan?

Tentu, tentu. Saya sudah tua tapi saya belum pikun kok. Silakan, kamu mau apa saja, boleh.

Ehm, boleh minta uang nggak Pak, saya lagi kurang banget nih.

He?

Err.. bercanda Pak. Kita mulai dari nama saja. Nama Nautilus ini apakah punya sejarah Pak, semacam latar belakang begitu?

Oh, nama marga saya ya. Nautilus itu aslinya dari bahasa Romawi, yang artinya pelaut. Di keluarga saya juga semua hapal lagu yang nenek moyangku seorang pelaut.

Eh? Nama marga? Pak Nautilus bisa nyanyi juga?

Iya, nama marga. Nama lengkap saya John Nautilus, soalnya ayah saya pernah tinggal sebentar di Inggris. Kalau nyanyi, ya bisalah, nyanyi2 waktu dikamar mandi gitu.

Kalu begitu, bisa dipanggil John saja Pak?

Wah jangan, nanti pada bingung, ini spesies apa kok namanya John.

Oh iya ya, haha. Trus, bisa mendemokan keindahan suara ketika nyanyi Pak?

Wah itu juga jangan. Suara saya jelek, lebih jelek daripada itu, siapa, tokoh di Doraemon itu? Darsem?

Zzzz. Yasudah, lupakan Pak. Pertanyaan selanjutnya. Silsilah keluarga Bapak ini sudah berapa puluh tahun ya?

Berapa puluh tahun? Wah, kau meremehkanku anak muda. Silsilah keluarga, dulu pernah ditunjukkan sama bapak saya, itu bisa ditelusuri hingga sekitar 500 juta tahun lalu. Jaman yang kalian para manusia menyebutnya Cambrian.

Wah, silsilahnya panjang sekali ya Pak. Padahal Bapak ini, maaf, kecil lho, hehe.

Loh, jangan salah anak muda. Dulu diantara keluarga saya, ada yang ukurannya bisa mencapai 2,5 meter. Sayang, garis keturunan mereka berhenti sekitar 200 juta tahun lalu. Yang beranak terus nggak putus-putus cuma yang badannya kecil-kecil ini, hahaha.

Haha, Bapak ini bisa saja. Sebentar-sebentar, jadi, nama Nautilus itu dari bahasa Romawi? 500 juta tahun lalu sudah ada bahasa Romawi Pak??

Nggak juga. Itu kan penyebutan di lidah kalian. Kalau di bahasa kami, nama marga kami adalah

Adalah apa pak?

Adalah

Ya Pak?

Waduh, karakternya nggak ada di keyboard manusia, gimana ini?

Yasudah nggak usah Pak. Ngomong-ngomong, itu kenapa kaki di kepala dan kepala di kaki Pak? Penggemar Peterpan juga ya, kayak saya?

Yang ada juga Peterpan itu ngefans sama saya, makanya bikin lagu itu terinspirasi dari kepala saya, haha.

Hahahaha. Garing deh.

Jadi yang kayak gini ini nak, namanya Chepalopoda. Hewan yang kakinya di kepala itu namanya Chepalopoda. Dan diantara semua Chepalopoda, cuman saya yang punya cangkang. Keren kan?

Iya Pak, keren. Jadi, Bapak ini blasteran cumi-cumi dan bekicot, gitu? *ditampar*

*tampar pewawancara edan*

Dengar-dengar, tentakel Bapak ini pegangannya kuat ya?

Iya. Kalau ini tentakel udah pegang sesuatu, kami gak akan melepaskannya begitu saja. Bahkan kalau barang itu ditarik paksa, dengan kekuatan yang luar biasa, bisa-bisa tentakelnya putus dari kepala tapi tetap memegang benda itu.

Yaampun. Sampe segitunya.

Mau coba?

Nggak Pak, makasih. Btw sekarang Bapak tinggalnya dimana?

Saya? Di Selat Bali. Kalau famili sih ada yang dekat ada yang jauh. Kalau kamu lihat peta, perairan laut antara 30°LU – 30°LS dan 90°-185°BT. Kerabat saya tersebar di wilayah itu.

Ooh, di sekitar Indonesia berarti banyak juga ya Pak.

Yup betul itu. Makanya kamu nanti kalo sudah jadi orang kaya, jangan suka buang limbah pabrik ke laut ya.

Iya Pak, doakan saja, hehe.

Ayo, diminum dulu ini. Maaf cuman air asin, maklum rumah saya kan di dalam laut.

Eeh, iya Pak, makasih. Ini oksigen saya sudah mau habis ini.

Sudah, jangan malu-malu, ini rumput lautnya dimakan juga.

Aduh Pak, tangki saya lepas. Eeh?? Blrrrgh bjrrbhg… *kirim SOS ke kapal*

*kapal merespon, tarik tumbal ke permukaan secepatnya*

Ah, anak muda yang penuh semangat, berenang ke permukaan seperti itu. Hati-hati di jalan wahai anak muda.

****

Demikianlah percakapan tidak jelas yang terjadi di sebuah rumah yang sebenarnya tidak pernah ada yang menjadi saksi sebuah perbincangan yang sesungguhnya juga tidak pernah ada. Seperti kata pepatah, injaklah ranting supaya patah, maka ambillah patahannya lalu bawa pulang untuk membuat ketapel *eh*

original image of nautilus from http://aquaviews.net

 
5 Komentar

Posted by pada Februari 14, 2012 in Animal, nature, Sea

 

5 responses to “From The Depth I’ve Came

  1. gizhworld

    Februari 21, 2012 at 4:09 pm

    yan ==”

     
  2. Faye

    Februari 22, 2012 at 12:53 am

    udah lama ga baca postingan hewan-hewanmu
    nautilius ini jadi inget omake-nya animonster waktu ngebahas anime spiral suiri no kizuna, ngejelasin spiral yang ada di cangkan nautilus gitu

     
  3. ochin

    Maret 5, 2012 at 11:13 am

    sepertinya itu omanyte? atau omastar?

     
  4. no limit adventure

    Maret 9, 2012 at 7:54 am

    salam kenal :)
    sukses selalu :)

     
  5. andyan

    April 8, 2012 at 12:22 pm

    @gizh
    ya?

    @fay
    coba deh cari manga judulnya uzumaki, bikin ilfil sama spiral2 gitu

    @ochin
    tuh di postingan sebelah ada kabuto, wkwkwk

    @nolimit
    Sir! Yes Sir!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: